Home Budaya Tapak Tilas Pahlawan Beksi di Kampung Petukangan, Peringati Hari Pahlawan 10 November

Tapak Tilas Pahlawan Beksi di Kampung Petukangan, Peringati Hari Pahlawan 10 November

86
0
Penyerahan Cinderamata Oleh Ketua Yayasan Kampung Silat Petukangan (Foto: Rido)
Penyerahan Cinderamata Oleh Ketua Yayasan Kampung Silat Petukangan (Foto: Rido)

Jakarta, Kampung Silat – “Tidak ada yang lebih membahagiakan buat kita bisa berkumpul bersama dan membentuk ikatan silaturahmi antara Dinas Kebudayaan selaku perwakilan dari pemerintah beserta perangkat lainnya dan masyarakat yang ada disini,” Demikian pernyataan Iwan Henry Wardhana selaku Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dalam kunjungannya pada Sabtu (14/11/2020) di Kampung Budaya Beksi Petukangan, Jakarta Selatan.

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut hasil diskusi bersama Yayasan Kampung Silat Petukangan sebelumnya dalam proses pencanangan Kampung Petukangan sebagai Kampung Budaya berbasis silat dalam hal ini Beksi sebagai identitas kampung tersebut.

“Kami dari pemerintah tidak bisa lagi hanya duduk dibelakang meja lalu memberi keputusan tanpa mendengar dan mengetahui permasalahan yang ada. Untuk itu Dinas Kebudayaan berkeinginan kuat untuk lebih banyak mendengar daripada berbuat tanpa ada bahan dasar untuk membuat itu,” kata Iwan.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir diantaranya, Margani Mustar selaku tokoh masyarakat Majelis Tinggi Adat Betawi sekaligus pembina Yayasan Kampung Silat Petukangan, Walikota Jakarta Selatan yang diwakili oleh Jahrudin, Puspla Dirdjaja selaku Kepala Suku Dinas Kebudayan Jakarta Selatan, Budianto selaku Wakil Camat Pesanggrahan, Fahrul Hertanto selaku Lurah Petukangan Utara, Wahyudi, Lurah Petukangan Selatan, Husnizon Nizar selaku Tim Ahli Cagar Budaya dan rekan-rekan di jajaran Dinas Kebudayan DKI Jakarta, Naupal Haryawan selaku Ketua Yayasan Kampung Silat Petukangan, Nasir Mupid, maestro seni Topeng Blantek, H. Basir Bustomi, ketua Brigade Jawara Betawi 411 serta Lima pusat perguruan Beksi berdasarkan sanad yang ada di Petukangan.

Makam Haji Godjalih, salah satu pahlawan Beksi dalam perjuangan revolusi nasional (Foto: Rido)

Kegiatan yang dilakukan sejak pukul delapan pagi tersebut diantaranya ziarah makam dan tabur bunga, dialog budaya hingga atraksi budaya yaitu Manakib Haji Godjalih dan diiringi alat musik rebana, marawis, dan kongahyan yang dibawakan langsung oleh perguruan silat Beksi. Dengan mengusung tema “Tapak Tilas Pahlawan Beksi” kegiatan tersebut juga sekaligus memperingati hari pahlawan pada 10 November beberapa hari lalu.

Sekilas mengenai sosok Haji Godjalih adalah salah satu dari lima guru besar Beksi yang ada, diantaranya Haji Hasbullah, Simin, M. Noer dan Minggu. Haji Godjalih pada revolusi nasional 1945 selain jago silat, ia juga merupakan tokoh penggerak dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan di tanah Petukangan, Kebayoran dan sekitarnya.

Bukti salah satu kiprahnya adalah pada saat pertempuran Kebayoran dimana saat itu banyak terjadi penyisiran kampung ke kampung oleh Belanda. Laskar rakyat di Petukangan dalam hal ini Beksi menghadang penyisiran tersebut hingga akhirnya menewaskan salah satu korban yakni Mohammad Saidi, salah satu murid Haji Godjalih sekaligus anggota laskar rakyat Beksi.

Untuk mengenang jasanya namanya diabadikan menjadi nama jalan yaitu M. Saidi Raya yang menghubungkan antara Petukangan Selatan dengan Bintaro Utara.

“Banyak orang hanya bisa menjaga dan melestarikan saja tapi masyarakat Petukangan disini mampu mengembangkan dengan teknologi tepat guna seiring perkembangan zaman. Oleh karenanya harapan kami tentunya Beksi terus sejajar dan menjadi mitra kami di Dinas Kebudayaan dalam mengembangkan ekspresi kebudayaan dalam hal ini pencak silat,” sambungnya.

Sambutan Iwan Henry Whardana selaku Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta (Foto: Rido)

Iwan juga menambahkan bahwa Beksi telah mendapat sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, Dinas Kebudayaan pada 2021 nanti akan tetap mengusulkan pembinaan seni budaya di ruang publik salah satunya adalah pelatihan silat di setiap RPTRA yang tersebar di Jakarta.

“Kami akan mengupayakan supaya Beksi tercatat kembali di Departemen Hukum dan HAM sebagai kekayaan intelektual komunal bukan hanya ditingkat Jakarta tapi juga nasional dan mengenai Petukangan sebagai Kampung Budaya mulai hari ini akan kita coba dan akan ditinjau lebih lanjut oleh Tim Cagar Budaya” tandas Iwan.

Sementara itu Margani Mustar dalam sambutannya mengatakan bahwa Kampung Budaya seperti ini di Jakarta adalah yang pertama. Dirinya pun berharap bahwa jika nanti diresmikan sebagai Kampung Budaya Beksi Petukangan, maka hal-hal negatif harus segera sirna.

“Saya sangat apresiasi kepada sesepuh dan para praktisi yang istiqomah dalam melestarikan dan mengembangkan budaya silat Beksi ini. Kalau nanti ini terbentuk insyaAlloh kampung ini aman dan diridhoi, jauh dari narkoba, seks bebas, dan kejahatan lainnya,” ungkapnya.

Ramah tamah bersama (Foto: Rido)

Selanjutnya H. Basir Bustomi juga mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri Beksi ini memang lahir dan berkembang di tanah Petukangan dan para tokoh yang ada memperjuangkan Beksi sampai sekarang.

“Mudah-mudahan melalui Kampung Budaya Beksi Petukangan ini, Beksi akan lebih berkembang tidak hanya dikancah nasional tapi juga sampai internasional,” kata H. Basir.

Dalam sesi dialog para hadirin diberikan kesempatan untuk bertanya atau memberikan kritik serta saran. Pada sesi terakhir, Naupal menegaskan titik pusat lokasi yang akan dijadikan mercusuar dalam upaya membangun Kampung Budaya Beksi Petukangan.

“Kalo memang sudah diizinkan sebagai kampung budaya, maka tanah ini yang hari ini kita pijak menjadi titik pusat pengembangan Beksi Petukangan,” pungkas Naupal yang kemudian disetujui oleh para hadirin serta pemerintah tanpa perlu dirapatkan lebih dahulu.

Seluruh hadirin menikmati hidangan khas Betawi (Foto: Rido)

Sajian sarapan khas Betawi nasi uduk, ancemon, gensot ditemani bir pletok, teh dan kopi pun menambah suasana acara berlangsung dengan santai dan hangat ditambah pula peragaan jurus dasar Beksi bersama. Rombongan Dinas Kebudayaan yang datang dengan bersepeda begitu menikmati jalanya acara yang berlangsung lebih kurang dua jam. Protokol kesehatan 3M dan pembatasan jumlah peserta acara juga dilakukan dengan tertib mengingat Jakarta masih dalam masa PSBB transisi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here