Home SOSOK BABA JAJA, SEUNTIL KISAH PERJALANAN BEKSI GURU MUHAMMAD

BABA JAJA, SEUNTIL KISAH PERJALANAN BEKSI GURU MUHAMMAD

195
0
Baba Jaja di ruang tamu rumahnya (Foto: Rido)
Baba Jaja di ruang tamu rumahnya (Foto: Rido)

Jakarta, Kampung Silat – “Sebelum kita melanjutkan cerita ini, mari kita doakan beliau, Guru Muhammad, semoga Alloh mengampuninya,” kata Baba Jaja memulai cerita masa lalunya ketika ditemui di kediamannya di Jalan Beo, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Baba Jaja atau nama lengkapnya adalah Raden Hidayat Sudirja bin Zakaria bin Abdullah bin Muta’al merupakan pria kelahiran Kebayoran yang lahir pada 7 Januari 1937 atau berbarengan ketika Ratu Belanda, Wilhelmina menikah. Baba Jaja lahir dari rahim seorang ibu bernama Napsiah, seorang warga asli Kebayoran.

Perkenalannya dengan Beksi berawal dari pertemuannya dengan Guru Muhammad melalui pamannya ketika rumahnya yang berada di Jalan Kembang atau kini Gang Kembang, Kebayoran Lama.

“Saya itu belum tahu Guru Muhammad meski pada waktu itu namanya cukup dikenal masyarakat, yang jelas pada saat itu saya sedang di rumah. Tiba-tiba dua paman saya datang bersama satu orang Belanda dan satu orang pribumi yang dipanggil oleh paman saya dengan sebutan “guru”, ujarnya.

Baba Jaja yang pada saat itu sudah cukup usia pun larut dalam pembicaraan dan pertemuan tersebut. Dengan rasa penasarannya, dirinya mengatakan dengan bertanya kepada sosok yang dipanggil guru oleh pamannya dengan meyakinkan apakah betul sosok yang ia tanyakan adalah Guru Muhammad, namun seketika itu pula ia hanya mendapatkan jawaban yang kurang meyakinkan darinya.

“Orangnya itu sangat sederhana, tidak menunjukkan sikap yang berlebihan,” kata Baba Jaja.

Baba Jaja memakai pakaian adat Betawi (Foto: Rido)

Setelah peristiwa itulah perkenalannya dengan Guru Muhammad semakin akrab. Diakuinya bahwa Guru Muhammad seringkali mengunjungi rumahnya terlebih jarak antara rumah Baba Jaja dengan Guru Muhammad tak terlampau jauh.

“Guru Muhammad di Kampung Dukuh saya di Jalan Kembang ya tidak terlampau jauh,” lanjutnya.

Baba Jaja awalnya mengenal Guru Muhammad sebagai sosok yang pandai dalam hal keagamaan sehingga pembicaraannya banyak menyangkut masalah kehidupan, lingkungan dan masa depan.

“Setelahnya, kami jadi sering bertemu tapi tidak langsung belajar silat, biasanya kami membicarakan masalah kehidupan dan lingkungan saja karena situasi pada saat itu yang semakin tidak menentu, jaman sulit dan semuanya serba awam,” ujar pria yang usianya kini telah mencapai 83 tahun.

Berdasarkan tuntutan keadaanlah pada akhirnya Baba Jaja pun yang telah lama mengenal Guru Muhammad memutuskan untuk belajar silat Beksi kepadanya meski pada saat itu usianya hampir genap 40 tahun.

“Saya pikir-pikir ilmu bela diri sangat perlu juga, karena tidak mungkin tiba-tiba saya dipukul orang terus pulang hanya bisa merintih kesakitan,” katanya sambil tersenyum.

Alamat rumah Baba Jaja sekarang (Foto: Rido)

Berbekal niat dan tekad yang kuat, Baba Jaja pun mampu belajar Beksi kepada Guru Muhammad namun tidak sampai tamat. Proses pembelajaran pun dilakukan di halaman rumahnya dan dilakukan pada malam hari.

“Pada saat itu saya belajar sendiri aja, tidak gabung sama yang lain,” ujarnya.

Meski tidak sampai tamat, peran Baba Jaja dalam persilatan Beksi patut diapresiasi. Ketika ia menjadi ketua RT setempat, dirinya turut andil dalam meresmikan Perguruan Beksi Purbakala yang diketuai oleh Alm. Muhammad Nawawi yang juga murid langsung dari Guru Muhammad.

Pengalamnnya belajar Beksi tidak mampu ia lupakan. Ia selalu teringat bahwa ketika belajar Beksi selalu diimbangi dengan ilmu agama atau berupa nasihat kehidupan yang disampaikan langsung oleh Guru Muhammad. Cukup banyak pesan Guru Muhammad yang masih diingat oleh Baba Jaja, satu diantaranya adalah mengenai Beksi yang harus dirawat agar generasi selanjutnya dapat mengenal dan ambil bagian dalam merawat sehingga tidak punah.

“Satu lagi oleh-oleh dari beliau yang masih saya amalkan sampai sekarang yaitu terdapat di Surat Yasin ayat 58 yang maknanya selamat dunia akhirat,” tandasnya sambil menitikkan air mata mengingat jasa Guru Muhammad yang begitu tulus tak hanya kepada dirinya tetapi juga masyarakat yang ditemuinya.

Sejak tahun 1996, Baba Jaja memulai kehidupan barunya di Pamulang yang semula berada di Kebayoran. Kini, disisa usianya dirinya rajin membaca dan menulis perihal keagamaan sebagai bekal kehidupan selanjutnya di akhirat. Ditemani anak-anak yang sangat berbakti kepadanya, ia menikmati sisa kehidupannya dengan lebih bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here