Home Budaya ANTOLOGI TRADISI: SILAT BEKSI DARI KAMPUNG DADAP AMPE KAMPUNG PETUKANGAN SEGERA TERBIT!

ANTOLOGI TRADISI: SILAT BEKSI DARI KAMPUNG DADAP AMPE KAMPUNG PETUKANGAN SEGERA TERBIT!

104
0
Webinar ATL Gorontalo via Zoom Meeting (Foto: Rido)
Webinar ATL Gorontalo via Zoom Meeting (Foto: Rido)

Jakarta, Kampung Silat – Sejak pandemi Covid-19 melanda nampaknya segala hal bidang kehidupan di muka bumi mengalami penghambatan. Padahal waktu terus berjalan dan menerjang segala yang merintanginya termasuk dalam hal kebudayaan. Belakangan ini aktivitas kebudayaan termasuk dalam berkesenian banyak dilakukan melalui daring (dalam jaringan) baik dalam pertunjukan maupun webinar (Web Seminar) seperti yang dilakukan pada Minggu, 19 Juli 2020 lalu yang diinisiasi oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Gorontalo.

ATL merupakan suatu wadah perkumpulan para akademisi yang terfokus dalam bidang kebudayaan terutama lisan dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Pada sebelumnya, ATL Cabang Gorontalo menyelenggarakan webinar dalam rangka pelantikan pengurus baru ATL Gorontalo.

“Dalam masa pandemi ini terpaksa pelantikan dilakukan secara daring melalui webinar dan sebelumnya hal ini telah kami rapatkan bersama,” ungkap Dr. Sanca A. Lamusu, M.Hum selaku Ketua ATL Gorontalo dalam sambutannya melalui daring.

Turut hadir dalam webinar tersebut diantaranya Pudentia MPSS, Ketua Umum ATL, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum, guru besar UNY Yogyakarta, Prof. Dr. M. Karmin Baruadi, M. Hum, guru besar UNG Gorontalo dan ketiganya sekaligus sebagai narasumber dalam webinar.

Banner Webinar dan Call for Paper

Selain melantik pengurus baru, ATL Gorontalo juga menginisiasi program penulisan makalah atau paper dengan tema yang menyangkut dengan tradisi lisan. Salah satu paper diantaranya membahas Silat Beksi Betawi dari Kampung Dadap Ampe Kampung Petukangan yang ditulis oleh Dr. Gres Grasia Azmin, M.Si, Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta sekaligus pengurus ATL Jakarta dan Muhamad Rido, S.Hum, pegiat sejarah dan budaya Kampung Silat Petukangan.

“Kami menulis Beksi khususnya dalam pandangan sejarah, karena dalam pengamatan kami masih minimnya data ilmiah mengenai Beksi,” jelasnya yang biasa disapa Ibu Gres ketika dihubungi oleh kampungsilat.com beberapa waktu lalu.

Dalam tulisannya diungkapkan perjalanan sejarah Beksi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh keduanya baik ketika berawal di Kampung Dadap hingga di Kampung Petukangan yang dikenal sebagai pusat persebaran Beksi yang dimulai oleh tokoh H. Godjalih. Silat Beksi merupakan salah satu tradisi dan ekspresi lisan masyarakat Betawi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik DKI Jakarta pada 2015 silam.

“Saya merasa memiliki kewajiban pada Beksi sampai kapanpun karena disertasi saya membahas Beksi, begitupula dengan Rido dalam penelitian skripsinya. Disini coba kita kombinasi karena bagaimanapun penelitian kami telah melalui fase uji ilmiah masing-masing,” tegasnya.

Rencananya tulisan ini akan diterbitkan oleh ATL dalam bentuk e-book (elektronik buku) menjadi satu dalam kumpulan tulisan (antologi) tradisi dari berbagai wilayah di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here