Home Budaya TAPE ULI BANG DUL, CERITA KULINER BETAWI DI MASA PANDEMI

TAPE ULI BANG DUL, CERITA KULINER BETAWI DI MASA PANDEMI

225
0
Logo Tape Uli Bang Dul (Foto: Aziz)
Log Tape Uli Bang Dul (Foto: Aziz)

Jakarta, Kampung Silat – Di masa pandemi Covid-19 ini memang sangat terasa bagi kehidupan masyarakat dunia. Ditambah lagi tak kunjung reda pandemi Covid-19, bahkan semakin merajalela merusak segala sendi kehidupan, terutama kehidupan para pelaku kuliner Betawi.

Sebut saja Bang Dul salah satu pelaku kuliner Betawi “tape dan uli” yang hingga kini terus berjibaku dalam bergiat memasarkan produk kuliner andalannya “tape uli” serta terus merawat rasa “asik legit” tape uli olahannya kepada lidah setiap pelanggannya melalui internet.

“Usaha kuliner Betawi ini adalah warisan turun menurun keluarga besar,” ungkap Bang Dul selaku penggiat kuliner Betawi belum lama ini dikediamannya Jl. Betawi Kp. Gunung RT. 003/09 Kel. Jombang Kec. Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Tape Uli Bang Dul dengan kemasan yang menarik (Foto: Aziz)

Menurutnya bahwa orang tua beliau berdagang kuliner Betawi tape uli ini sejak lama, sekitar tahun 1970 an hingga kini. Beliau menjual tape uli beragam harganya, mulai dari 15 ribu sepasang, 50 ribu paket toples 450 gram. Perihal produksi tape uli sekarang, paling 40 atau 50 pcs. Terkadang ada juga yang sisa. Sangat berbeda waktu dulu, setiap buka stand di Bazaar, event budaya itu bisa mencapai 1 karung tape uli ludes diserbu pengunjung.

“Satu karung (60 liter) bisa ludes produksi tape uli saat buka stand di Bazaar event budaya. Kalau sekarang paling habis 5 liter,” jelasnya.

Usaha sekarang, kami menggunakan jasa online dan setelah masa pandemi Covid-19 selesai baru bisa ngelapak. Kami tidak produksi seperti biasa dan telah merumahkan pekerja yang membantu setiap harinya produksi tape uli di rumah.

“Pemasaran tape uli melalui medsos, dari teman ke teman. Kalau dulu kami biasa mangkal di Slipi Gatot Subroto,” tegasnya.

Dampak pandemi Covid-19 ini sangat mengerutkan dahi para pelaku kuliner Betawi yang susah usaha karena pemasaran tape uli masuk ke pasar-pasar dan perkantoran. Pasar sepi dan perkantoran sepi. Keliling kampung, warga ekonominya sulit.

“Hal tersebut terjadi karena penggiat kuliner Betawi tidak diutamakan di masa pandemi Covid-19 ini. Semua lebih utama ke bahan pokok,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here