Home KULINER DODOL BETAWI SATIBI TETAP EKSIS DITENGAH PANDEMI COVID-19

DODOL BETAWI SATIBI TETAP EKSIS DITENGAH PANDEMI COVID-19

Oleh: Abdul Aziz

83
0
Dodol khas Betawi (Foto: Aziz)
Dodol khas Betawi (Foto: Aziz)

Jakarta, Kampung Silat – “Kami satu keluarga dari keturunan Kong H. Amarudin bin H. Sajeli mulai tahun 1979 sudah menggeluti salah satu kuliner tradisional khas Betawi, yaitu dodol dan kerak telor,” ungkap Bang Iman Dodol Betawi selaku pelaku UMKM Kuliner Betawi kepada kampungsilat.com di Jakarta.

Dijelaskannya bahwa untuk kuliner dodol Betawi hanya lingkungan keluarga saja awalnya. Setiap Maulid dan Idul Fitri, kami sekeluarga berbondong-bondong membuat dodol. Tugasnya berbeda-beda, mulai dari menggiling beras ketan, memasak gula merah, mengaduk dari kole hingga matangnya. Paling berat yang ngaduk banyak sekali pantangnya, seperti tidak boleh bicara selama proses ngaduk, melafazkan asmaul husna selama proses.

“Tetapi tidak sendiri, bergantian karena proses cukup lama hampir satu hari,” jelasnya.

Dan pada awal tahun 1992 ada beberapa yang minta pesanan dodol kami, dari tetangga sebelah yang untuk seserahan dan lainnya. Akhirnya pada tahun 2001 kami sekeluarga sepakat untuk mengembangkan usaha kuliner dodol Betawi berkerjasama dengan brand merk “DODOL KAROMAH” dan itu belum kemana-mana baru lingkup DKI Jakarta saja. Bulan Februari 2006 saya bersama orang tua, mencoba untuk memasarkan dodol ke toko-toko hingga ke pasar malam dan bazaar lainnya. Tapi pada saat tahun 2006 itu, kami pindah rumah ke Jl. Raden Saleh GG. Paraji, Cilodong, Depok.

Tahun 2008 kami bergabung di UMKM kota Depok dan beberapa kali kami melakukan penyuluhan kepada rekan-rekan UMKM cara pembuatan dodol.

“Hingga pada saat itu, alhamdulillah usaha kami berkembang hingga sekarang,” tegasnya.

Menurutnya ada beberapa orang bertanya bahwa kenapa saya lebih memilih di usaha kuliner Dodol Betawi. Dodol terdapat sebuah filosofi di dalam proses pembuatannya yang begitu banyak makna dalam kehidupan.

“Di dalam filosofi itu terdapat “Silaturahmi, Kebersamaan, Kesederhanaan, Rasa Syukur dan Hidup Bersahaja,” ujarnya.

Di dalam pembuatan dodol kita tidak bisa sendiri melakukannya, tapi harus dengan beberapa orang dan bahkan sampai hampir seluruh keluarga ikut gotong-royong menyiapkan bahan alat-alat untuk membuat dodol (Kebersamaan). Maka di dalam keluarga, saudara dan kerabat selalu terjalin (Silaturahmi).
Dan di saat berkumpul seperti itu tidak ada yang namanya si kaya, si miskin, si malas, si rajin dan semua sama (Kesederhanaan ). Setelah dodol matang dan siap saji semua menikmati rasa legit, manis, gurih, lengket dan lembutnya dodol tersebut.

“Maka timbullah (Rasa syukur) atas karunia yang telah Allah SWT limpahkan kepada kita semua dan selalu (Hidup Bersahaja),” tuturnya.

Dahulu dodol itu makanan orang kaya (Prestise) tidak semua orang mampu dan sanggup bikin. Kalau rasanya bener-bener enak, harganya tidak murah. Maka untuk mensiasatinya, beberapa orang patungan untuk bikin dodol bersama-sama. Dan saya pernah merasakan betapa beratnya ngaduk dodol, saya meyakini bahwa ada filosofi tersembunyi di balik diturunkannya dodol ke muka bumi. Bikin dodol itu tidak gampang. Prosesnya lama dan melelahkan. Mata pedih dan tangan sakit, tetapi ketika sudah jadi rasanya lengket dan manis. Persis seperti kehidupan bahwa dalam hidup kita mengalami proses dan bertahap tidak bisa instant. Kita ditempa, diaduk, menyakitkan, menyedihkan dan bisa menyenangkan juga. Kita terus berjalan untuk menemui sang Maha Hidup. Semua pengorbanan, kesabaran, bertahan atas ujian adalah sebagai bentuk komunikasi vertikal kepada-Nya.

“Agar kita terus dekat dan mendekat dan mendekat,” katanya.

Ketika sudah dekat kepada yang Maha Kuasa, maka segala sesuatu menjadi indah. Kedekatan kepada Allah SWT akan meneduhkan jiwa, menentramkan hati, menenangkan ruh “nafsul muthmainnah. Jika lengket maka akan manis seperti dodol. Maka dekatkanlah, lengketkanlah diri ini untuk lebih dikenal oleh Allah SWT. Dodol adalah satu kata serjuta makna.

Kalau untuk tahun ini agak merosot karena dampak covid 19. Akan tetapi untuk tahun-tahun sebelum nya, apalagi menjelang Idul Fitri, alhamdulillah pesanan dodol kami sehari tidak kurang dari 600-800 kg. Dan alhamdulillah setiap festival budaya ataupun festival lainnya, kami selalu di undang karena kami selalu edukasi (ngaduk di tempat) bawa kenceng. Seperti di beberapa festival budaya di wilayah Jabodetabekten.

“Bahkan ada dari Semarang, Kudus dan Lampung. Terkadang ada juga resealler kami yang sudah langganan tiap tahun pesan. Seperti diwilayah Malang, Bekasi, Banten, Cipanas, Cianjur, Bandung, Sukabumi, Lampung Bakauheni, Lampung Metro Kalianda, Banjarmasin, Palembang dan Subang,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here